Jumat, 08 Oktober 2010

Tes kirim

Tes tes tes
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kamis, 04 Februari 2010

The Blind Side

Photobucket

Senin, 01 Februari 2010

Up in the air - 2009

Photobucket

City of Men - 2008

Photobucket

Awaydays - 2009

Photobucket

Goodbye Bafana - 2007

Photobucket

The Willow Tree - 2005

Beed-e majnoon (2005) - Majid Majidi

Photobucket
Rasa Syukur itu ? ? ?

Kamis, 28 Januari 2010

We Are Marshall - 2006

Photobucket

Invictus - 2009

Photobucket

An Education (2009)

ANTARA SEKOLAH DAN KEHIDUPAN NYATA

AN EDUCATION
Sutradara : Lone Scherfig
Skenario : Nick Hornby
Berdasarkan memoar karya Lynn Barber
Pemain : Alfred Molina, Carey Mulligan, Dominic Cooper, Emma Thompson, Olivia Williams, Peter Sarsgaard, Rosamund Pike

Photobucket

London 1962.
Menjadi remaja yang dibesarkan di kawasan suburban yang hidupnya begitu mudah ditebak, datar dan serba pas-pasan, tentu saja membuat para murid SMA ingin segera saja melesat keluar dari penjara kebosanan itu. Jenny (Carey Mulligan) , 16 tahun, cerdas dan cerdas, bekerja keras agar hidupnya yang begitu datar bisa berubah menjadi lebih bergelora jika dia diterima di Universitas Oxford. Dia menjadi kesayangan guru-guru, terutama guru sastra Inggris, karena bakat dan minatnya pada sastra dan seni. Untuk melangkah ke Universitas Oxford, Jenny bukan hanya belajar mati-matian, tetapi juga kursus Cello.

Tetapi di suatu siang ketika langit London tumpah hujan, Jenny dan sang cello basah kuyup. Sebuah mobil mewah meluncur mengikutinya. David Gold(Peter Sarsgaard) , seornag lelaki dewasa, berusia 30-an, simpatik menawarkan Jenny untuk melindungi sang cello. Pertemuan di bawah hujan itu kemudian berlanjut dengan kencan menyaksikan konser, makan malam di restoran mewah di pusat kota London dan bahkan sebuah perjalanan ke Oxford.

Orangtua Jenny yang keras dan ambisius, Jack (Alfred Molina) dan Marjorie (Cara Seymour) dengan mudah ditipu dengan berbagai kebohongan agar puteri remajanya itu bisa diajak berlibur ke Oxford. Perlahan, Jenny mengetahui bagaimana David dan kawan-kawannya mencari “nafkah”. “Jangan sok borjuis,Jenny. Inilah cara kami mencari duit; tapi dengan apalagi kita bisa menikmati restoran mahal dan liburan ke Paris?”

Film yang diangkat dari memoar Lynn Barber dan skenarionya ditulis oleh sastrawan terkemuka Nick Hornby ini, sebuah film yang getir. Sesekali berkelebatan humor , meski humor itu tetap terasa kepahitan perbedaan kelas. Jack, ayah Jenny, yang selalu menggerutu soal biaya pendidikan anaknya itu serta merta gembira dengan hubungan anaknya dengan seorang lelaki yang tampak begitu kaya raya (dan tak jelas asal muasal aliran duitnya). Penonton sudah diperkenalkan bagaimana David mencari duit dan bagaimana dia mempunyai kebiasaan ganjil di tempat tidur. Karena itu,puncak cerita ini sebetulnya adalah: titik apa yang akan membuat Jenny mau meninggalkan lelaki ini.

Sutradara Lone Sherfig dan penulis skenario Nick Hornby, sengaja membiarkan “kejutan” akhir status David sebagai puncak drama pahit ini. Persoalannya bukan klimaks itu, tetapi bagaimana tokoh Jenny mengatasi tragedi hidupnya (akibat keinginannya untuk mengambil “jalan pintas” dalam hidupnya). Inilah yang penting. Seseorang boleh saja terjerembab—karena rakus atau memilih jalan pintas—tetapi dia harus bisa bangun dan membereskan kepingan reruntuhan yang berjatuhan. Jenny--dengan segala keputusan yang salah karena ingin meraih “daya hidup”--adalah seorang sosok yang bersedia memungut keping-keping yang runtuh untuk membangun kembali.
Leila S.Chudori (source : http://www.tempointeraktif.com)

Kamis, 31 Desember 2009

Catatan Akhir Tahun 2009

hmm.. lum ada ide, tapi akhir tahun ini sy merasa banyak kehilangan teman dan orang2 yg memberikan inspiratif .

setiap malam tahun baru, ada sepotong kenangan indah bersama istri (yg masih dlm pedekate) . . . dan semoga kenangan ntuh awet sepanjangn hayat. . . .

[ Booked dulu]

Sabtu, 26 Desember 2009

Ziarah Asyura

Salam atasmu duhai Aba Abdillah

Salam atasmu duhai Putera Rasulullah

Salam atasmu duhai Putera Amirul mukminin, putera Penghulu para washi.

Salam atasmu duhai Putera Fatimah penghulu wanita sedunia.

Salam atasmu ya Tsarallah wabna Tsarih wal-Mitral Mawtur.

Salam atasmu dan semua Arwah yang bergabung di halaman kediamanmu.

Sepanjang hidupku, siang dan malam, aku akan mendoakanmu semua, semoga Allah melimpahkan kedaimaian-Nya kepadamu semua.


Duhai Aba Abdillah, sungguh besar musibah yang menimpamu bagi kami dan seluruh kaum muslimin. Sungguh besar musibah yang menimpamu bagi langit dan seluruh penghuninya. Semoga Allah melaknat ummat yang menzalimimu dan menyakitimu duhai keluarga suci Nabi. Semoga Allah melaknat ummat yang menghalangimu dari kedudukan yang telah Allah tetapkan bagimu. Semoga Allah melaknat ummat yang membunuhmu. Semoga Allah melaknat ummat yang membiarkan mereka memerangimu.

Kunyatakan kepada Allah dan kepadamu bahwa aku berlepas diri dari musuh-musuhmu, dari semua pengikut mereka, dan para pendukung mereka.


Duhai Aba Abdillah, sungguh kunyatakan damai kepada siapa saja yang berdamai denganmu, dan kunyatakan perang kepada siapa saja yang memerangimu sampai hari kiamat. Semoga Allah melaknat keluarga Ziyad dan keluarga Marwan. Semoga Allah melaknat Bani Umayyah yang bersikap kejam kepadamu. Semoga Allah melaknat putera Marjanah. Semoga Allah melaknat Umar bin Sa’d. Semoga Allah melaknat Syimran. Semoga Allah melaknat ummat yang bergabung untuk memerangimu.

Demi ayahku dan ibuku, sungguh besar bagiku musibah yang menimpamu. Aku memohon kepada Allah yang telah memuliakan kedudukanmu dan memuliakanku karenamu. Semoga Allah mengkaruniakan kepadaku kesempatan untuk membelamu bersama Imam Shahibuz zaman dari Keluarga Muhammad saw. Ya Allah, jadikan aku orang yang mulia di sisi-Mu bersama Al-Husein (as) di dunia dan di akhirat.

Duhai Aba Abdillah, aku mendekatkan diri kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Amirul mukminin, kepada Fatimah, kepada Al-Hasan, dan kepadamu dengan wilayahmu. Aku berlepas diri dari orang yang menzalimimu dan menzalimi para pengikutmu. Kunyatakan kepada Allah dan kepadamu bahwa aku berlepas diri dari mereka. Aku mendekatkan diri kepada Allah dan kepadamu dengan kecintaan kepadamu dan kepada orang yang engkau cintai. Aku berlepas diri dari musuh-musuhmu, dari semua yang menentangmu dan memerangimu, dan semua pengikut dan para pendukung musuh-musuhmu.

Sungguh kunyatakan damai kepada siapa saja yang berdamai denganmu, kunyatakan perang kepada siapa saja yang memerangimu; menolong orang yang menolongmu, dan memusuhi orang yang memusuhimu.

Aku memohon kepada Allah yang telah memuliakanku dengan mengenalmu dan mengenal para kekasihmu. Aku memohon kepada Allah yang telah menganugrahkan kepadaku keterlepasan diri dari musuh-musuhmu. Semoga Allah menjadikan aku orang yang senantiasa bersamamu di dunia dan di akhirat. Semoga Allah menetapkan aku di jalan yang benar di dunia dan di akhirat. Aku bermohon semoga Allah menyampaikan aku pada kedudukan yang mulia di sisi Allah, mengkaruniakan kehormatan kepadaku untuk membelamu bersama Imam Shahizuz zaman dari keturunanmu, Imam yang senantiasa berada dalam kebenaran,. Dengan hakmu dan kedudukanmu di sisi-Nya dan dengan penjiwaan terhadap musibah yang menimpamu dan ujian yang paling besar yang pernah terjadi di bumi dan di langit dan sepanjang sejarah Islam, aku memohon kepada Allah semoga Allah menganugrahkan kepadaku karunia yang paling agung.

Ya Allah, dengan ziarah ini jadikan aku orang yang memperoleh shalawat, rahmat dan pengampunan dari-Mu.

Ya Allah, jadikan hidupku seperti kehidupan Muhammad dan keluarga Muhammad, dan matiku seperti wafatnya Muhammad dan keluarga Muhammad.

Ya Allah, hari ini adalah hari yang dianggap penuh berkah oleh Bani Umayyah, putera pemakan jantung yang terlaknat putera yang terlaknat. Mereka menganggap hari ini hari penuh berkah dengan memalsukan firman-Mu dan sabda Nabi-Mu saw. Ya Allah, laknatlah Abu Sufyan dan Mu`awiyah dengan laknat yang abadi dari-Mu.

Hari ini adalah hari berpesta poranya keluarga Ziyad dan keluarga Marwan karena mereka telah berhasil membunuh Al-Husein (as). Ya Allah, lipat-gandakan kepada mereka laknat dari-Mu dan azab yang pedih.

Ya Allah, aku mendekatkan diri kepada-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku, dengan berlepas diri dari mereka dan melaknat mereka, dan dengan mencintai Nabi-Mu dan keluarga Nabi-Mu saw.

Ya Allah, laknatlah orang yang pertama kali mezalimi hak Muhammad dan keluarga Muhammad, laknat juga orang yang mengikutinya. Ya Allah, laknatlah mereka yang memerangi Al-Husein dan para pengikutnya serta mereka yang berbaiat kepada Yazid untuk membunuh Al-Husein (as). Ya Allah, laknatlah mereka semua.

Salam atasmu duhai Aba Abdillah dan semua Arwah yang bergabung di halaman kediamanmu. Kupanjatkan doa sepanjang hidupku, siang dan malam, semoga Allah senantiasa melimpahkan kedamaian-Nya kepadamu. Semoga Allah tidak menjadikan ziarahku ini sebagai ziarah yang terakhir kepadamu.

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Al-Husein, salam pada semua putera Al-Husein, salam pada semua sahabat Al-Husein.


Segala puji bagi Allah pujian orang-orang yang bersyukur kepada-Mu ketika mereka mendapat musibah. Segala puji bagi Allah yang telah memberi ujian yang besar kepadaku. Ya Allah, karuniakan kepadaku syafaat Al-Husein pada hari kiamat. Kokoh pijakanku pada kebenaran di sisi-Mu bersama Al-Husein dan sahabat-sahabat Al-Husein yang telah mencurahkan segala kemampuannya untuk membela Al-Husein (as).

Selasa, 22 Desember 2009

Asyura - Muharram 1431 H

Photobucket

Cara Pasang Dasi

Cara Memasang dasi, sapa tau berguna . . .

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Selasa, 15 Desember 2009

share Audio Files/ Lamiyat untuk Asyura

Gerbang Syahadah - Malam Asyura
http://www.4shared.com/file/173144688/8b823b6d/Malam_Asyura.html
Gerbang Syahadah - Jangan LUpakan Karbala
http://www.4shared.com/file/173144736/8e0ca596/Jgn_Lupakan_Karbala.html
Gerbang Syahadah - Imam Zaenal Abidin
http://www.4shared.com/file/173144793/489b993/Imam_Zaenal_Abidin.html
Gerbang Syahadah - Meniti Darah Husein
http://www.4shared.com/file/173144811/2902158a/Meniti_Darah_Husein.html
Gerbang Syahadah - Yamadzlum Yamaqtul
http://www.4shared.com/file/173144869/68980b7f/Yamadzlum_Yamaqtul.html
Gerbang Syahadah - Maula Ali
http://www.4shared.com/file/173144880/8fc79e55/Maula_ali.html
Gerbang Syahadah - Salam Bagi Husein
http://www.4shared.com/file/173144927/ea8e894b/Salam_bg_Husein.html
Gerbang Syahadah - Ali Akbar
http://www.4shared.com/file/173144934/6a9ce9b0/Ali_Akbar.html

http://www.4shared.com/file/173167970/61e81423/ZIARAH_PARA_AHLUBAIT.html
http://www.4shared.com/file/173167987/78149d4f/Ziarah_Rasul.html
http://www.4shared.com/file/173168000/791ba93d/Ziarata_Imam_Husein.html
http://www.4shared.com/file/173168010/6000987c/Tawassul.html
http://www.4shared.com/file/173168038/5ced72cc/DUKA_ZAINAB.html


http://www.4shared.com/file/173168054/3019961/matam01.html
http://www.4shared.com/file/173167962/96fd444e/matam02.html
http://www.4shared.com/file/173167952/bdd0178d/matam03.html
http://www.4shared.com/file/173167942/a4cb26cc/matam04.html
http://www.4shared.com/file/173168047/8313f99a/matam05.html
http://www.4shared.com/file/173168035/225c0e71/matam06.html
http://www.4shared.com/file/173168051/736b6dee/matam07.html

Jumat, 20 November 2009

The Color of Paradise - (Majid Majidi, Iran)

Photobucket

Muhammad nama anak laki-laki buta itu. Dari keluarga miskin yang ditinggal mati ibunya. Bapanya seorang pekerja kasar di desa yang selalu gelisah dengan kesendirian serta selalu terganggu oleh ketidakpercayaan dirinya sebagai tiang keluarga: Muhammad, Bahareh, Hanieh, dan sang nenek tua. Muhammad dititipkan di sekolah sosial untuk anak buta di kota. Kedua saudara perempuannya cukuplah bersekolah di desa, sekolah untuk anak normal. Sang

nenek bertani dan beternak ayam. Potret keluarga manusiawi di sebuah desa miskin namun berbunga indah dan berkupu-kupu, warna-warni, warna surga. Persoalan dimulai ketika sekolah Muhammad memasuki masa libur panjang. Semua murid harus pulang ke rumah masing-masing, karena guru pun perlu libur dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Satu per satu teman sekolah Muhammad dijemput oleh keluarga mereka. Hingga tinggallah Muhammad. Tanpa penjemput, tanpa keluarga. Ia menangis.

Dalam tangis itu, Muhammad mendengar tangisan lain. Dari seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya, dan celakanya belum bisa terbang. Muhammad menghentikan

tangisnya. Dia tahu, bahwa ada tangis lain yang lebih

berhak atas perhatian Tuhan. Dengan segala daya dan

kebutaannya, hanya mengandalkan pendengaran dan

hatinya, Muhammad mengembalikan anak burung itu ke

sarangnya, di atas pohon.

Seorang lelaki tua dengan mata tipis harapan

menghampiri. Ia bapa Muhammad. Waktunya sekarang untuk

menjemput sang anak. Namun, datanglah keraguan dalam

dada si bapa. Bagaimana saya harus memelihara anak

buta ini? Apakah saya mampu? Apakah dia nantinya bisa

mandiri? Setelah permintaannya kepada guru --agar

Muhammad dititipkan saja di sekolah itu selamanya--

ditolak, si bapa terpaksa membawa pulang Muhammad ke

desa. Menuju kehidupan yang bertambah keras, oleh

tambahan satu beban. Beban yang buta pula.

Dan Muhammad. Apa yang diketahui seorang anak kecil

buta tak berdosa itu? Dia berlari-lari kecil di

sepanjang pematang sawah --terkadang jatuh-- tak sabar

menemui kakaknya tersayang Bahareh, adiknya tercinta

Hanieh, dan terutama neneknya yang terkasih, Azizah.

Ia telah menyiapkan bingkisannya sejak lama. Kalung

tutup botol buat adik, sisir plastik buat kakak, dan

gunting kuku warna merah, hadiah juara di kelas, untuk

nenek. Kebahagiaan dan kehangatan di pojok desa kecil

akan datangnya aku, laki-laki keluarga. Dia bahagia.

Dia lupa akan butanya. Ketika diremasnya tangan

neneknya, dia berkata: "Nek, bagaimana kamu bisa punya

tangan seputih ini?". Berderai air mata, azizah

menjawab, "Muhammad, ketahuilah, tangan azizah hitam

2

oleh umur, jelek oleh cuaca". Muhammad tidak menerima,

"Tidak mungkin. Tanganmu halus sekali" [kamera

berfokus kepada tangan Muhammad --kecil dan halus,

mengusap tangan azizah --tua, keriput, kurus].

Burung-burung bernyanyi, mengiringi cinta di antara

dua manusia itu.

Tetapi, warna-warna tidak abadi. Bapa semakin gelisah

akan penghasilannya yang sangat minim dan kewajibannya

menghidupi keluarga. Dan, oh, hatinya tertambat kepada

seorang janda di desa sebelah. Menikahi sang kasih

tidaklah semudah mengangkat karung arang atau membelah

pohon sebagaimana pekerjaannya sehari-hari.

Tabungannya tidak ada, penghasilannya selalu kurang.

Tapi, oh. Haruskah aku hidup begini selamanya? Maka si

laki-laki tua berkeputusan: melamar. Dengan segala

ketakadaan, mahar dia sediakan. Dan, demi sedikit

mengurangi tanggungan, Muhammad harus di"titipkan"

kembali.

[Dan ini yang aku suka: sentuhan wanita pada filem

mengambil tempat]. Nenek dan kedua saudara Muhammad

protes keras. Mereka tidak rela Muhammad dijauhkan

lagi dari keriaan keluarga miskin itu. Muhammad pun

begitu. Dia merasakan kebahagiaan bersama nenek yang

mengasihinya. Dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah

normal di desa bersama saudaranya. Dia bisa "melihat"

warna-warna surga di desa itu. Tapi tidak demikian

dengan bapanya.

Dalam kelengahan nenek, bapa memaksa membawa Muhammad

ke desa lain. Ia dititipkan ke tukang kayu tunanetra.

Disuruh bekerja agar kelak bisa mandiri. Maka, dari

mata buta yang kecil itu, kembali mengalir air...

Dengan hilangnya Muhammad, warna menjadi gelap. Nenek

sakit dan akhirnya mati. Bahareh dan Hanieh sedih dan

menangis merindukan saudaranya. Bapa dilanda sesal,

apalagi setelah lamarannya dibatalkan. Lelaki tua itu

tak berdaya. Menangis meraung. Ia rindu pada Muhammad.

Dan, bapa kembali menjemput Muhammad. Tanpa uang buat

bayar bis, ia memutuskan naik kuda. Dalam

perjalann pulang dengan Muhammad di atas kuda itu,

jembatan kayu ambruk. Muhammad dan kuda hanyut di

tengah arus deras sungai dan hujan yang marah. Si bapa

tertegun melihat anaknya ditelan alam. Ia melompat.

Tapi apalah daya seorang tua peragu. Ia pun hanyut...

Ketika bangun, ia mendapati diri di sebuah pantai sepi

dengan burung-burung di atas memandang. Dan di sana.

Di sana ada tubuh Muhammad. Mati. Dia, si bapa,

berlari menjemput anaknya. Dipeluknya dalam tangis tak

berkesudahan...

[fokus kamera pindah ke tangah Muhammad, bercahaya,

bergerak kemudian tamat....] /Chicago, 2000. (i.o.)

source : http://www.patunru.org/

Rabu, 28 Oktober 2009

Kangen . . .

huhuhu...

Tana Ogi



Tanah Papua



beserta isinya ....

bingung.. ini lagu anak ato dewasa ......

shock ajah sebagai orang bugis, dapat video klip ini di youtube ...

Lagu bugis - Candoleng doleng


Selasa, 27 Oktober 2009

Majid Majidi, Sutradara Penuh Cinta

Zahra menangis dan merasa amat kesal saat sepatunya hilang oleh kakaknya, Ali. Di lain sisi, Ali pun khawatir jika kasus hilangnya sepatu adiknya itu ketahuan oleh sang Ayah. Maka mau tak mau, demi menutupi dari sang Ayah, mereka mesti bergantian memakai sepatu Ali untuk pergi bersekolah. Zahra yang masuk lebih pagi akhirnya harus berlari sepulang sekolah untuk menyerahkan sepatu yang ia pakai pada Ali.
Kejadian demi kejadian pun berlangsung, Ali beberapa kali harus berbohong pada gurunya karena ia terlambat. Bahkan pernah sekali waktu, ia harus dihukum karena tidak memakai kaus kaki akibat sepatunya basah setelah Zahra tak sengaja menjatuhkannya ke selokan. Sementara, sang adik selalu merengek-rengek pada Ali untuk segera mengganti sepatunya yang hilang.
Kegalauan Ali akhirnya terjawab. Suatu hari, ia melihat pengumuman di sekolah bahwa akan diadakan lomba lari marathon. Untuk juara kedua, hadiahnya adalah sepatu baru. Melihat kesempatan ini, Ali amat mengidam-idamkan untuk menjadi juara kedua agar ia bisa mengganti sepatu adiknya. Kemudian Ali pun bekerja keras agar gurunya mengijinkan ia mengikuti lomba tersebut. Dan walhasil, dari tes yang dilakukan, Ali-lah yang kemudian lulus menjadi delegasi sekolahnya untuk mengikuti lomba lari marathon tersebut.
Tak ada yang unik dan lucu dari lomba lari marathon tersebut. Semua berjalan normal, seperti di pertengahan jalan beberapa anak ada yang menyerah atau tertinggal. Keunikan hanya terjadi pada Ali. Ia yang mengincar juara dua selalu berusaha agar menempati posisi kedua bagaimanapun caranya dan dengan kecepatan larinya ia selalu mampu menjaga posisinya tetap di urutan kedua. Namun sayangnya, di beberapa meter menjelang garis finish, karena tak ingin tertinggal ia memacu langkahnya lebih cepat. Ia pun lupa kalau ia harus tetap berada di posisi kedua. Akhirnya Ali pun menjadi juara pertama.
Tapi, justru Ali tak senang dengan kemenangannya sebagai juara pertama karena itu artinya ia kehilangan hadiah sepatu untuk adiknya. Ali pun bersedih dan dengan terpaksa harus mengatakan kekalahannya pada adiknya. Melihat kegigihan kakaknya untuk mengembalikan sepatunya, Zahra akhirnya tidak tega. Alih-alih marah, ia justru membantu mengobati luka di kaki kakaknya hasil kerja keras untuk berlari menjadi pemenang. Di akhir cerita, sang Ayah tampaknya tahu nasib hilangnya sepatu Zahra dan rusaknya sepatu Ali untuk berlari. Tanpa sepengetahuan kedua anaknya, sang Ayah mempunyai kejutan sepatu baru buat Ali dan Zahra yang ia beli di pasar.


Dari Kerja Keras, Lahir Kebanggaan
Cerita tersebut adalah versi tertulis dan sinopsis dari film drama kehidupan yang bertajuk Children of Heaven. Film ini dikemas dengan sederhana dan mengangkat tema kehidupan sehari-hari di Iran. Dengan latar belakang komplek perumahan yang lengkap dengan interaksi masyarakat di dalamnya membuat film yang dibintangi dua bintang kecil, Amir Farrokh Hashemian (sebagai Ali) dan Bahare Seddiqi (sebagai Zahra) terasa dekat dengan aktivitas kita sehari-hari.
Film unik yang menyabet penghargaan Best Picture dari Festival Film Montreal dan menjadi nominator untuk kategori Best Foreign Film pada Academy Award tahun 2004 ini lahir dari kerja keras seorang sutradara asal Iran, Majid Majidi. Selain Children of Heaven sutradara muslim ini telah menelurkan beberapa judul film lainnya seperti Baduk (1992), Pedar (1996), The Color Of Paradise (1999), Baran (2001), dan The Willow Tree (2005).
Baran dan The Color of Paradise menjadi dua film lainnya yang mendapat penghargaan internasional pula. Baran bercerita tentang seorang pemuda bernama Latif. Latif yang bekerja di sebuah areal pembangunan gedung jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Baran yang menyamar jadi laki-laki dan bekerja di tempat yang sama dengannya. Baran sendiri dikisahkan sebagai seorang perempuan Afghanistan yang mengungsi secara ilegal ke Iran.
Sementara The Color of Paradise menceritakan tentang sulitnya komunikasi antara anak yang bisu dan ayahnya yang merasa kehadiran sang anak menyusahkan kehidupannya. Kedua film ini menjadi simbolisasi atas opini Majid atas kehidupan sosial, budaya, dan politik di dunia.
Majid lahir di Tehran, Iran, tahun 1959. Ia lahir dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Latar belakang keluarganya yang demikian membuat ia peka terhadap fenomena-fenomena sosial, politik, maupun kemasyarakatan lain di sekitarnya. Itulah yang di kemudian hari mendorongnya untuk membuat film-film yang bersentuhan dengan kehidupan keseharian.
Laki-laki yang kini dikenal dunia internasional sebagai produser, penulis skenario, dan sutradara film ini mengawali karir perfilmannya saat ia berumur 14 tahun. Saat itu, ia mulai berakting kecil-kecilan di kelompok teaternya. Ternyata, naluri akting dan film-nya mulai nampak. Karenanya kemudian ia meneruskan sekolah ke Institute of Dramatic Art di Teheran.
“Saya mulai berakting dalam teater sekitar umur 13 atau 14 tahun. Saya tergila-gila pada akting, tapi membuat film membuat saya lebih tergila-gila. Akhirnya, kesempatan datang dan saya membuat film Baduk. Di Iran, ada tradisi untuk menampilkan seni teater sama seperti sebuah film,” tuturnya sutradara yang namanya kian dilirik dunia internasional ini.
Setelah Revolusi Islam di Iran pada 1978 yang menumbangkan kerajaan Dinasti Pahlevi, minatnya pada dunia sinematografi membawanya untuk membintangi berbagai film. Salah satunya film terkenal yang Majid bintangi berjudul Boycott garapan sutradara Mohsen Makhmalbaf pada 1985. Selain itu, ia juga sudah mulai merintis pembuatan filmnya sendiri dalam format film-film pendek dan film dokumenter.
Akhirnya, pada 2004, namanya tercantum sebagai satu-satunya sutradara dari Iran yang dinominasi pada Academy Award untuk film Children of Heaven. Berturut-turut setelah itu, namanya selalu tercantum sebagai pemenang maupun nominator di dunia internasional. Sebut saja beberapa penghargaan yang ia dapat antara lain kategori Best Picture untuk filmnya yang berjudul The Color of Paradise yang sekaligus terpilih sebagai 10 film terbaik menurut majalah Time selama tahun 2000. Film-film buah karya Majid pada akhirnya disebut-sebut sebagai film yang sarat nilai dan kaya akan simbolisasi kehidupan.



Film dan Kehidupan
Setidaknya, karya-karya Majid menyentuh tiga sisi. Pertama cerita tentang isu sosial politik yang sedang hangat dibicarakan dunia, seperti kasus pengungsi asal Afghanistan yang membanjiri Iran. Isu ini ia tuangkan dalam Baran yang bercerita tentang perempuan asal Afghanistan yang menyamar sebagai laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan.
“Baran merupakan simbolisasi orang Afghanistan yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Orang-orang Afghanistan tidak bisa berbicara,” begitu penjelasannya mengenai diamnya tokoh Baran dalam filmnya.
Kedua, tentang sisi kehidupan yang nyaris tak terjamah karena sibuknya masyarakat pada berbagai masalah kehidupan. Dan ketiga, tentang cinta yang dikaitkan pada isu ras atau perbedaan golongan.
Film yang Majid muat memang diangkat dari kisah-kisah sederhana namun dibalik itu ia selalu menyelipkan pesan-pesan yang terkait dengan masalah sosial, budaya, hingga politik. Simbol-simbol itu nampak pada perilaku diamnya seseorang, kemiskinan yang menyebabkan kesulitan untuk berinteraksi dengan sesama, hingga kesulitan komunikasi akibat masalah fisik maupun mental.
Majid sendiri mengaku tidak menghindar dari masalah politik, tapi ia justru memberinya sentuhan lebih mencoba memberikan sesuatu yang bernilai dengan memberikan sentuhan manusiawi. Ini semua terkait dengan latar belakang budayanya yang dibesarkan di Iran. Menurutnya, Iran adalah negara tua yang punya sejarah budaya tersendiri. Budaya Iran banyak dipenuhi puisi-puisi yag bersentuhan dengan kehidupan manusia. Pada akhirnya, tradisi tersebut merambah ke semua sisi kebudayaan yang didukung oleh kepercayaan yang masyarakat Iran miliki. Karenanya memunculkan kembali sisi dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi semacam kerangka kerjanya dalam membuat sebuah film.
“Sekarang, dunia dan negeri Barat mulai melupakan sisi-sisi kemanusiaan, nilai-nilai kebudayaan, dan saling menyayangi, “ jelasnya, “Saya selalu mencari perasaan terjujur dan hadiah paling indah dunia, contohnya seperti kebajikan. Dalam rasa hormat itu, saya menemukan bahwa tidak ada dunia yang lebih sederhana, murni, dan begitu indah selain dunia anak-anak. Saya mengambil dunia anak-anak ini dengan sungguh-sungguh, karena ia amat dekat dengan kenyataan. Ketika kita melihat Children of Heaven, selain ada anak-anak juga ada orangtua mereka.
Majid juga berupaya memberikan gambaran pada dunia tentang seperti apa Islam sebenarnya. Terbukti bahwa film Baran kemudian menjadi representasi penggambaran wanita Islam yang mengimbangi prasangka negatif dunia Barat bahwa wanita dalam Islam pun pada kenyataannya mempunyai hak yang sama dalam memilih dan menjalani kehidupan. Ia juga berupaya menampilkan citra umat Islam yang bisa hidup berdampingan walau berbeda bahasa dan suku.
Keberhasilan film-film Majid di dalam negeri maupun dunia internasional menjadi kebanggaan tersendiri pada negeri Iran khususnya dan masyarakat Islam pada umumnya. Masa-masa awal karirnya, Iran adalah negeri yang amat membatasi diri pada sesuatu yang berasal dari luar, terutama Barat. Akhirnya, banyak kebijakan yang pada akhirnya menyulitkan masyarakat Iran untuk bisa mengeksporasi kemampuannya dan berkreasi dengan maksimal.
Majid mengaku beberapa temannya sesama sutradara ada yang ditangkap pemerintah karena film-filmnya dinilai tidak sesuai dengan peraturan. Dengan keterbatasan itulah, Majid justru bangkit untuk mengemas sesuatu lebih cantik dan sederhana. Film-film Majid minim efek suara maupun lagu-lagu pendukung. Jangankan efek visual, tampilan gambarnya bahkan amat natural apa adanya. Tapi, di balik kekurangan itu, film Majid tampil dengan keunikan tersendiri yang justru menjadi nilai lebih untuk kontribusi dunia perfilman dunia, terlebih yang berasal dari dunia Islam.
“Ada perbedaan di antara masyarakat pada sisi ekonomi dan teknologi. Namun, nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai yang universal karena manusia diciptakan sama oleh Tuhan. Tentu saja perasaan, emosi dan aspirasi seperti cinta, persahabatan, kepahlawanan, dan sebagainya ada di setiap manusia. Bahasa seni dapat memfasilitasi dan membawa semua orang dalam perasaan yang sama tentang kemanusiaan walaupun berbeda ras, budaya, dan negara. Saya pikir film-film Iran telah menemukan bahasa ini dan dunia saat ini. Kehausan akan cinta dan persahabatan dimengerti tanpa kesulitan,” jelasnya mengomentari keberhasilan film-film Iran.





Beberapa Penghargaan yang Diterima Majid Majid
Jury Award of San Sebastian Film Festival, 1996.
Montreal International Film Festival untuk kategori Best Picture, 1997.
Grand Prix of Americas Best Film, 21th Montreal Festival untuk World Films, 1999. Nominasi pada Academy Awards untuk kategori Best Foreign Film, 1999.
Terpilih sebagai satu dari 10 film terbaik sepanjang tahun 2000 oleh Majalah Time.
Oecumenical Special Award, 25th Montreal Film Festival, 2001.
Grand Prix Des Ameriques, 25th Montreal Film Festival, 2001.
Penghargaan Douglas Sirk Award pada 2001.
Penghargaan Amici Vittorio de Sica Award pada 2003.
Tehran Fajr Festival, meraih empat penghargaan, 2005.

source : dari blog lain..lupa namanya ..maap ..maap ...maap

Senin, 26 Oktober 2009

Mencari "Manusia Bugis"



udah beberapa bulan ini, mencari ini buku ... tapi blum dpat juga ....
Photobucket

Judul : Manusia Bugis
Penulis : Christian Pelras
Penerbit : Nalar, Jakarta
Tahun : Februari 2006
Hal. : xxxxiv + 450 hlm.