Tampilkan postingan dengan label Resensi FiLm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi FiLm. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2009

The Color of Paradise - (Majid Majidi, Iran)

Photobucket

Muhammad nama anak laki-laki buta itu. Dari keluarga miskin yang ditinggal mati ibunya. Bapanya seorang pekerja kasar di desa yang selalu gelisah dengan kesendirian serta selalu terganggu oleh ketidakpercayaan dirinya sebagai tiang keluarga: Muhammad, Bahareh, Hanieh, dan sang nenek tua. Muhammad dititipkan di sekolah sosial untuk anak buta di kota. Kedua saudara perempuannya cukuplah bersekolah di desa, sekolah untuk anak normal. Sang

nenek bertani dan beternak ayam. Potret keluarga manusiawi di sebuah desa miskin namun berbunga indah dan berkupu-kupu, warna-warni, warna surga. Persoalan dimulai ketika sekolah Muhammad memasuki masa libur panjang. Semua murid harus pulang ke rumah masing-masing, karena guru pun perlu libur dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Satu per satu teman sekolah Muhammad dijemput oleh keluarga mereka. Hingga tinggallah Muhammad. Tanpa penjemput, tanpa keluarga. Ia menangis.

Dalam tangis itu, Muhammad mendengar tangisan lain. Dari seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya, dan celakanya belum bisa terbang. Muhammad menghentikan

tangisnya. Dia tahu, bahwa ada tangis lain yang lebih

berhak atas perhatian Tuhan. Dengan segala daya dan

kebutaannya, hanya mengandalkan pendengaran dan

hatinya, Muhammad mengembalikan anak burung itu ke

sarangnya, di atas pohon.

Seorang lelaki tua dengan mata tipis harapan

menghampiri. Ia bapa Muhammad. Waktunya sekarang untuk

menjemput sang anak. Namun, datanglah keraguan dalam

dada si bapa. Bagaimana saya harus memelihara anak

buta ini? Apakah saya mampu? Apakah dia nantinya bisa

mandiri? Setelah permintaannya kepada guru --agar

Muhammad dititipkan saja di sekolah itu selamanya--

ditolak, si bapa terpaksa membawa pulang Muhammad ke

desa. Menuju kehidupan yang bertambah keras, oleh

tambahan satu beban. Beban yang buta pula.

Dan Muhammad. Apa yang diketahui seorang anak kecil

buta tak berdosa itu? Dia berlari-lari kecil di

sepanjang pematang sawah --terkadang jatuh-- tak sabar

menemui kakaknya tersayang Bahareh, adiknya tercinta

Hanieh, dan terutama neneknya yang terkasih, Azizah.

Ia telah menyiapkan bingkisannya sejak lama. Kalung

tutup botol buat adik, sisir plastik buat kakak, dan

gunting kuku warna merah, hadiah juara di kelas, untuk

nenek. Kebahagiaan dan kehangatan di pojok desa kecil

akan datangnya aku, laki-laki keluarga. Dia bahagia.

Dia lupa akan butanya. Ketika diremasnya tangan

neneknya, dia berkata: "Nek, bagaimana kamu bisa punya

tangan seputih ini?". Berderai air mata, azizah

menjawab, "Muhammad, ketahuilah, tangan azizah hitam

2

oleh umur, jelek oleh cuaca". Muhammad tidak menerima,

"Tidak mungkin. Tanganmu halus sekali" [kamera

berfokus kepada tangan Muhammad --kecil dan halus,

mengusap tangan azizah --tua, keriput, kurus].

Burung-burung bernyanyi, mengiringi cinta di antara

dua manusia itu.

Tetapi, warna-warna tidak abadi. Bapa semakin gelisah

akan penghasilannya yang sangat minim dan kewajibannya

menghidupi keluarga. Dan, oh, hatinya tertambat kepada

seorang janda di desa sebelah. Menikahi sang kasih

tidaklah semudah mengangkat karung arang atau membelah

pohon sebagaimana pekerjaannya sehari-hari.

Tabungannya tidak ada, penghasilannya selalu kurang.

Tapi, oh. Haruskah aku hidup begini selamanya? Maka si

laki-laki tua berkeputusan: melamar. Dengan segala

ketakadaan, mahar dia sediakan. Dan, demi sedikit

mengurangi tanggungan, Muhammad harus di"titipkan"

kembali.

[Dan ini yang aku suka: sentuhan wanita pada filem

mengambil tempat]. Nenek dan kedua saudara Muhammad

protes keras. Mereka tidak rela Muhammad dijauhkan

lagi dari keriaan keluarga miskin itu. Muhammad pun

begitu. Dia merasakan kebahagiaan bersama nenek yang

mengasihinya. Dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah

normal di desa bersama saudaranya. Dia bisa "melihat"

warna-warna surga di desa itu. Tapi tidak demikian

dengan bapanya.

Dalam kelengahan nenek, bapa memaksa membawa Muhammad

ke desa lain. Ia dititipkan ke tukang kayu tunanetra.

Disuruh bekerja agar kelak bisa mandiri. Maka, dari

mata buta yang kecil itu, kembali mengalir air...

Dengan hilangnya Muhammad, warna menjadi gelap. Nenek

sakit dan akhirnya mati. Bahareh dan Hanieh sedih dan

menangis merindukan saudaranya. Bapa dilanda sesal,

apalagi setelah lamarannya dibatalkan. Lelaki tua itu

tak berdaya. Menangis meraung. Ia rindu pada Muhammad.

Dan, bapa kembali menjemput Muhammad. Tanpa uang buat

bayar bis, ia memutuskan naik kuda. Dalam

perjalann pulang dengan Muhammad di atas kuda itu,

jembatan kayu ambruk. Muhammad dan kuda hanyut di

tengah arus deras sungai dan hujan yang marah. Si bapa

tertegun melihat anaknya ditelan alam. Ia melompat.

Tapi apalah daya seorang tua peragu. Ia pun hanyut...

Ketika bangun, ia mendapati diri di sebuah pantai sepi

dengan burung-burung di atas memandang. Dan di sana.

Di sana ada tubuh Muhammad. Mati. Dia, si bapa,

berlari menjemput anaknya. Dipeluknya dalam tangis tak

berkesudahan...

[fokus kamera pindah ke tangah Muhammad, bercahaya,

bergerak kemudian tamat....] /Chicago, 2000. (i.o.)

source : http://www.patunru.org/

Selasa, 20 Oktober 2009

Babi Buta Ingin Terbang

Photobucket
Babi Buta Ingin Terbang, (2008) 77 menit Sutrdara : Edwin,
sinematografer, Sidi Saleh; dan produser, MeiskeTaurisia. Pemain : Ladya Cheryl, Pong Harjatmo, Andhara Erly, Joko Anwar, dan Carlo Genta
FIPRESCI winner, 2009 International Film Festival Rotterdam.
South Korea 3 October 2008 (Pusan International Film Festival)
Canada 5 October 2008 (Vancouver International Film Festival)
Philippines 19 October 2008 (Cinemanila International Film Festival)
Netherlands 24 January 2009 (International Film Festival Rotterdam)
Japan 15 March 2009 (Osaka Asian Fim Festival)
Argentina 26 March 2009 (Buenos Aires Festival Internacional de Cine
Independiente)
Turkey 5 April 2009 (International Istanbul Film Festival)
Hong Kong 10 April 2009 (Hong Kong International Film Festival)
Singapore 22 April 2009 (Singapore International Film Festival)


Film ini cukup provokatif, ditampilkan tidak dalam bentuk naratif secara waktu ato sebab akibat sehingga penonton dipaksa menyusun sendiri dan mesnapshoot dalam ingatan puzzle dihamparkan selama 77 menit.
cukup banyak simbol2 yang ditampilkan dalam film ini, dengan berlatarbelakang cerita sulitnya hidup sebagai keturunan etnis thionghoa pada kelas menengah bawah di negeri indonesia yang tercinta ini. dengan mencoba menghangatkan kembali kepada penonton tentang Tragedi Mei 1998 serta perlakuan2 diskriminasi yg menimpa keturunan etnis thionghoa dengan mengambil tempat di surabaya.
bercerita tentang seorang dokter keturunan etnis thionghoa yang sangat doyan menendangkan lagunya stevie wonder dirumah dan dit4 prakteknya melalui tape compo jadulnya ... yg karena keseringan memperdengarkan sehingga keluarga, suster dan pasiennya pun ikut mendendangkan lagu ini. penggunaan kacamata hitam sang dokter, mungkin menjadi cara dia menutup identitas diri sebagai seorang etnis thionghoa dan maksud dari adegan sang dokter yg ingin mengiris matanya dengan alat bedah ..masih menjadi pertanyaan sy ...
si dokter hidup bersama seorang istri mantan pemain bulutangkis nasional yang telah gantung raket dikarenakan merasa penghargaan bangsa ini terhadap ini nasionalisme yang dia tunjukkan di lapangan bulutangkis masih selalu dipertanyakan karena dia seorang keturunan etnis thionghoa. juga serta seorang anak perempuan, yg berawal dari kegemaran bermain petasan karena dipercaya dapat mengusir hantu hingga mencoba meledakkan petasan di mulutnya atau pemakan petasan.... dan merasakan terjadinya diskriminasi pada lingkungannya bersama teman laki2nya yg selalu menjadi korban pemukulan anak2 dikampungnya . . .
Yg menarik disini, simbolisasi yang ditampilkan sangat bebas makna, malah kadang dibungkus apik sehingga bisa dianggap sekedar sebuah adegan lelucon...seperti ungkapan sang dokter yg ingin masuk Islam saat sang istri sedang menonton siaran rohani,... adegan aktivitas anal sex dan oral sex terhadap sang dokter oleh sepasang homoseksual diruang prakter dokter, yg merupakn kesepakatan dokter sebelumnya jika pasangan itu berhasil memberikan jalur kemudahan bagi si suster (yang akan dinikahi oleh dokter) untuk mengikuti planet idol ...cuman yg sedikit risih, durasi adegan ini cukup lama, mungkin ada nilai yg ingin ditekankan oleh pembuat filemnya... apalagi ditambah dg penampilan dari pasangan homoseksual tersebut ... jika sedikit cermat lebih dalam....anda akan senyum2 simpul sambil ngangguk dan garuk kepala....
begitupulan penampilan si suster di pentas planet idol dg berjilbab... sempat ngakak sendiri... kamsudnya ??? hehehe . oh iya lupa, dokter ingin masuk islam mungkin agar ada kesempatan berpoligami...hahaha...
xixixxi.. sebagaimana film sejenis ini yg sarat dg simbol sehingga penonton bebas memaknainya . . . sebagaimana pemaknaan sy yg cukup ngelantur ini...
High rekomended lah ntuk di tonton....

opss...lupa.. dan bagaimana dengan babinya yg buta dan ingin terbang itu ...???? liat ajah sendiri deh...binun juga nehh

[ditonton saat Q Festival Film 2009 di Surabaya]

Rabu, 07 Oktober 2009

Bobby : Wajah Amerika yang Sakit

Yang ingin dikatakan film ini sebetulnya sederhana: Amerika Serikat (AS) pada 1968. Akan tetapi, sutradara Emilio Estevez tak melakukannya dengan sederhana. Ia menabur lebih dari selusin bintang –dari Anthony Hopkins, Demi Moore, Laurence Fishburne, hingga Martin Sheen– untuk menjadi daya tarik film ini. Sayangnya, ia menciptakan setengah selusin jalan cerita (subplot) yang membikin sebagian penonton lumayan terengah-engah.

Meski begitu, Estevez menunjukkan orisinalitasnya, yakni pada bagaimana ia menggambarkan wajah AS pada 1968 itu. Estevez membonceng kisah tragis Robert Francis Kennedy –senator AS yang tewas ditembak tahun itu. Namun, Bobby (2006) sendiri dimulai dengan cerita kematian tokoh kemanusiaan Martin Luther King yang juga mati ditembak.

Ketika King tewas, AS saat itu adalah sebuah negara adidaya yang tengah sakit. Dililit perang Vietnam, AS juga mengalami guncangan besar kebudayaan, euforia demokrasi, dan huru-hara rasialisme. Robert F Kennedy –akrab dipanggil Bobby– muncul sebagai calon presiden AS sekaligus harapan terakhir negeri Paman Sam untuk mengakhiri blunder Richard Nixon.

Syahdan, di jantung kota Los Angeles. Manajer Hotel Ambassador, Paul (William H Macy), dibuat sibuk mempersiapkan perhelatan besar. Sebuah hajatan akbar, dan kelak yang paling bersejarah, bakal berlangsung di ballroom hotel berbintang itu, yakni kampanye senator Robert F Kennedy.

Kemenangan Kennedy di LA disebut-sebut sebagai kunci kemenangan dia di seantero negeri. Kemenangan yang disebut-sebut bakal mengubah wajah AS. Dan, itu dimulai di hotel berbintang Ambassador. Tapi kemudian, sutradara Estevez bergerak metaforis. Ia menjadikan romantika kehidupan di Hotel Ambassador sebagai wajah AS itu sendiri, yakni mikrokosmos bagi pertarungan kelas, ras, drama politik, sekaligus skandal percintaan. Film pun mulai bercabang-cabang bagai ranting pohon.

Kamera lantas menyorot ke dapur hotel. Pada ruangan berbalut cat biru muda ini, konflik ras menemukan wujudnya yang vulgar. Manajer dapur yang rasialis, Timmons (Christian Slater), secara tak adil menugaskan dua koki berdarah Meksiko untuk piket ganda. Jadwal kerja ini mematikan kesempatan keduanya ikut pada pemilihan umum presiden AS.

Paul, manajer hotel, murka. Timmons dituding rasialis dan, lebih dari itu, dituduh tak menyokong pesta demokrasi. Ia dipecat. Tema demokrasi menjadi pesan penting drama politik Bobby.

Simaklah ketika seorang reporter asal koran Chekoslovakia, Lenka Janacek (Svetlana Metkina) ditolak mentah-mentah tim kampanye Bobby mewawancarai sang senator lima menit. Alasannya sederhana. Di Cheko tak ada pemilu dan, karenanya, Cheko bagai negara haram bagi AS.

Kemudian muncul kisah pasangan Romeo-Juliet, William (Elijah Wood) dan Diane (Lindsay Lohan), yang baru saja memutuskan menikah di salah satu kamar Hotel Ambassador. Ini bukan pernikahan biasa. Diane tak sekadar ingin dipersunting lelaki pujaannya, tetapi juga ingin melawan negaranya. Lewat pernikahan ini, Diane telah membebaskan William dari wajib militer ke Vietnam.

Kemudian film bergerak pada sosok Miriam (Sharon Stone), kru tata rias hotel. Miriam baru tersadarkan kesetiaannya baru saja disobek-sobek Paul, suaminya, yang diketahuinya berselingkuh dengan seorang petugas penerima telepon hotel.

Film lantas beringsut pada kehidupan Virginia Fallon (Demi Moore) yang mengalami kebuntuan hidup. Fallon adalah penyanyi yang kariernya mulai padam, namun ia didapuk menyanyi pada prosesi penyambutan Bobby di hotel itu. Tapi, ia terus menerima rongrongan dari suaminya, Tim (Emilio Estevez), yang berujung kehampaan hidup.

Secara sepintas, diceritakan pula tentang kehidupan pensiunan John Casey (Anthony Hopkins), seorang mantan pekerja Ambassador, yang kini menghabiskan waktunya bermain catur di lobi hotel tersebut. Mereka menunggu Bobby tiba di hotel ini, berpidato, dan kelak membawa perubahan bagi AS dan mereka.

Dua orang tim kampanye Bobby, Cooper (Shia LaBeouf) dan Jimmy (Brian Geraghty), adalah sosok pemuda idealis yang percaya demokrasi dan Amerika yang berubah. Lucunya, keduanya malah jatuh teler akibat obat bius menjelang Kennedy tiba di hotel itu.

Satu-satunya wajah yang tak muram adalah kehidupan pasangan Jack (Martin Sheen) dan Samantha (Helen Hunt). Mereka adalah salah satu penyokong dana kampanye Robert F Kennedy yang sukses mengatasi kegalauan hidup AS pada 1968 dengan kembali pada diri sendiri.

Begitulah Estevez. Ia membuat kita bagai keluar masuk partisi-partisi. Ada lebih dari setengah lusin subplot berseliweran dalam film berdurasi 111 menit ini. Penonton, yang kurang biasa menikmati penyajian kontemporer ini, akan sedikit terganggu. Namun, taburan para bintang membikin film ini seperti karnaval yang ramai. Dan, dialog-dialog yang menghanyutkan cukup membikin kita sabar menunggu, menunggu, dan menunggu ujung cerita film ini.

Hingga akhirnya ke-24 tokoh fiksi itu berjumpa pada satu muara, yakni ballroom Hotel Ambassador. Di situlah Bobby Kennedy menyampaikan pidato kampanyenya yang inspiratif. Beberapa menit kemudian ia tewas ditembak di dapur hotel tersebut.

Inilah akhir emosional film Bobby: Kematian Bobby yang mengguncang. Perasaan campur aduk pun muncul –antara terkejut dan hambar. Bukan perasaan yang sederhana, seperti halnya plot film ini yang dibuat tak sederhana.

Sumber : www.republika.co.id

Jumat, 11 September 2009

Ayneh (The Mirror) [Iran 1997]

huahaha.. cerdas.... dalam pembuatan film
Photobucket
awalnya film ini menceritakan kepulangan sendiri seorang anak kecil dari sekolah ke rumah yang tak kunjung dijemput oleh orang tuanya yang dalam ingatannya cuman gambaran sekitar rumahnya. tapi ditengah perjalanan, si anak ngambek untuk tidak melanjutkan film tersebut yang membuat crew film pada kalang kabut,,, dan si anak memilih pulang dengan sendiri. hehehe..
kepulangan anak ini lah yang di dokumenter oleh sang sutradara .... yang tersesat juga...wal hasil kita diperlihatkan beda tipisnya fiksi dan kenyataan.... sy yakin biaya pembuatan film ini ga terlalu besar karena si anak beserta orang yg dilibatkan dalam kepulangannya tidak merasa sedang di filmkan .... tapi yg bikin betah mengikuti film ini adalah kegigihan si anak mencari jalan pulang ke rumahnya dengan bersinggungan orang-orang di jalan...

Kamis, 10 September 2009

Merah Putih (2009)

Photobucket
berharap untuk selanjutnya MP tidak dibuat dengan sederhana dalam isi dan mubazir dalam efek, sy cukup terhibur dgn menontonnya, terhibur karena ngakak sendiri...
sy cukup tertawa, karena dari beberapa dialognya masih memasukkan dialog2 yang lazimnya pada sinetron yang bisa dengan mudah ditebak dialog selanjutnya. dan jujur... sy ga dapat feel dari nasionalismenya disini malah lebih seruan film Janur Kuning jaman doeloe... ato mungkin sy sudah ga mampu menikmati lagi nasionalisme yg disajikan pembuatnya. kemunculan tokoh gendutnya malah mengingatkan saya filmnya stanley kubrik "full metal jacket" yang lengkap dengan acara baris berbaris serta pelatihan di dalam asrama yang ditampilkan dalam MP. dan juga mungkin karena efek yang digunakan cukup high end, maka visualisasi akhir thn 1940 dan kehidupan desa terlihat cukup bersih sehingga ga ada kesan "keras"nya kehidupan saat itu. blum lagi tulisan spanduknya, yang tertata dengan apik dan tulisan yang rapih sehingga kesan "mengejar" dan "mempertahankan" kemerdekaan yang menjadi isu film tidak nampak.
dan yg cukup menjadi pertanyaan saya hingga sekarng.. beberapa kali adegan dan kejadian dalam MP selalu didasari dengan menjadi "muslim yang baik" ... sy ga ngerti makna yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. hal ini bisa terlihat pada saat pengangkatan sebagai komandan dan proses perpindahan dari kebuntuan ide menuju mendapatkan ide yg cemerlang dari komandannya...
Yah..overall .. film ini layak ditonton .. dan dapat berharap biaya yg besar itu bisa lebih menampilkan film yang lebih cerdas walau ga harus sampai memaksa untuk berkerut dahi....minimal ga menghadirkan mood sinetron dalam bioskop... itu ajah...

The Curious Case of Benjamin Button

Photobucket
Film ini cukup sarat dengan makna, walaupun berjalan pelan tapi mood untuk menuntaskan film ini sampai selesai cukup berhasil dijaga oleh pembuatnya.
bercerita tentang kehidupan mundur secara fisik, tentang Benjamin Button yang terlahir beda dengan fisik sebagai orang tua dan tumbuh menjadi anak kecil,,, hingga meninggal dalam kondisi bayi.
yang sering dimunculkan oleh pembuatnya, dan sy tangkap adalah tentang takdir, yang tidak terjadi secara kebetulan saja, segalanya sesuatunya memiliki alasan untuk terjadi. sebagaimana pembuatnya menvisualkan kejadian2 yg berasaskan if Then Else (dalam istilah pemograman komputer) ato hukum Sebab Akibat dalam ilmu logika berpikir.
motivasi yg ingin disampaikan mungkin kemampuan diri kita menerima perbedaan yg ada dalam diri serta orang sekitar kita, dengan kelebihan dan perbedaan dg orang lain. tak luput pula percintaan lintas usia.
film ini cukup rekomendasi untuk di tonton... pada ide menyusun cerita dg kehidupan berjalan mundur tak sebagaimana lazimnya saat ini manusia jalanin hidup dari kecil menuju ketuaan...
semoga dapat termaknai

Sabtu, 22 Agustus 2009

Blackboards (2000)

Blackboards
Original Title: Takhté siah
Genre: War/Drama
Director: Samira Makhmalbaf
Country Origin: Iran
Color: Color
Length: 85 Minutes
Year: 2000
Company: Makhmalbaf Productions
Reviewer: Kat
http://coffee-cat.net

Di daerah Kurdistan, perbatasan Iran dan Irak, segerombolan guru melangkah gontai tanpa tujuan. Di tiap punggung mereka menggantung satu papan tulis yang digunakan untuk “mendidik” sekaligus untuk melindungi diri dari bom. Seolah-olah sepasang sayap lumpuh yang tidak berguna, bahkan memberatkan dan kikuk. Meskipun atmosfirnya cenderung pesimis, ada banyak adegan (black,) deadpanned humour mewarnai film ini.

Di tengah-tengah gurun yang rawan dan kejam, dengan “murid-murid” penyelundup dan pelarian yang tidak punya waktu untuk “pendidikan” maupun “budaya”, tujuan “mulia” mereka tampak begitu menggelikan dan futil. “Pendidikan” — terutama non-oral (membaca & menulis) — direduksi menjadi komoditas yang tidak berguna ketika semua orang berjuang mempertahankan hidup. Seruan-seruan klise untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pendidikan menjadi tidak berbeda dari rayuan-rayuan gombal penjaja barang.

Saïd kemudian bertemu dengan grup nomaden yang bertujuan kembali ke tanah kelahiran mereka melewati perbatasan, ia menawarkan diri menjadi penunjuk jalan, sementara papan tulisnya ditawarkan sebagai mas kawin sekaligus alat pengangkut mertuanya. Penonton disodori absurditas dan satir yang mengejek dalam adegan pernikahan: di tengah-tengah peresmian pernikahan yang dibuat dadakan, sang istri dengan acuhnya memipiskan anaknya (sementara ayahnya sendiri mengalami kesulitan pipis akut). Usaha-usaha Saïd untuk mengajari istri dan anaknya membaca dan menulis tidak dianggap (apalagi menidurinya). Adegan akhir film ini — di mana mereka bercerai dan sang istri berjalan menjauh membawa papan tulisnya — menyentuh dalam kesia-siaannya.

Seperti kebanyakan film Iranian New Wave, film ini dibuat dengan menggunakan aktor non-professional, kamera tangan dan budget minim, menghasilkan suatu film yang mengaburkan batas fiksi dan dokumenter, tapi juga sarat imaji puitis. Di usianya yang ke-18 Samira menjadi sutradara termuda yang pernah berpartisipasi dalam kompetisi internasional Cannes dengan film debutnya The Apple. Sukses memenangkan gelar Jury Prize di Cannes 2000 dengan Blackboards, di tahun 2003, putri dari Mohsen Makhmalbaf ini kembali menyabet Jury Prize dengan At Five in the Afternoon.

Meskipun pada awalnya banyak skeptis yang menganggap The Apple tak lebih dari hasil kerja dan pengaruh ayahnya, Blackboards membuktikan kepiawaian Samira sebagai sutradara muda yang handal. Dalam bukunya Close Up: Iranian Cinema, Past, Present, Future, Hamid Dabashi bahkan menyatakan karya Samira menggebrak pretensi karya-karya “old masters” Iran, termasuk Dariush Mehrjui, Abbas Kiarostami, dan ayahnya sendiri, Mohsen Makhmalbaf. Setuju ataupun tidak, yang jelas karya-karya sutradara muda ini wajib kamu tonton.

*Review by: Kat
*You can find this movie at C2O
*C2O Library, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya

Senin, 10 Agustus 2009

JUNO (2007)

Awalnya ga terlalu respect ma ini film, liat dari posternya .. hmm..rada menarik tapi ga mampu menggodaku menontonya. Tapi setelah di rekomendasikan oleh seorang teman “aneh” (heheh..piss) beberapa judul film, salah satunya JUNO.
Photobucket
Menarik . . . dan mengejutkan
Tema berat dibawakan dengan amat santai tapi dengan tingkat kedewasaan yang sangat amat tinggi, diawali dengan kehamilan JUNO pada saat sex pertamanya dengan pacarnya yg dilakukan di atas sebuah kursi yang kemudian berlanjut dengan sikap JUNO memberitahukan pacarnya dan orang tuanya. Sikap kedewasaan JUNO yang tidak memandang sebuah malapetaka sebagaimana lazimnya terjadi berawal dari satu kesalahan menyusul menciptakan kesalahan-kesalahan yang lain.Sikap kedewasaan inipun didukung pula dengan kedewasaan pacarnya dan orang tuanya. Juno pun sempat berpikir untuk melakukan aborsi dengan mendatangi klinik aborsi yang didepannya ada seorang teman yang mengkampanyekan anti aborsi. Dan Junopun batal melakukan aborsi dikarenakan kengeriannya terhadap ruang klinik aborsi tersebut.
Bersama temannya, Juno pun mencari orang tua asuh untuk calon bayinya, orang tua asuh yang diinginkan adalah yang ideal dan pasangan yang bahagia. Orang tuanya yang cukup dewasa dan tahu menempatkan diri sebagai orang tua, walau terkesan membebaskan anak dalam menentukan pilihan2nya tetap membuktikan dirinya sebagai orang tua dengan menemani Juno bertemu dengan calon orang tua asuh beserta pengacara.
Konflikpun dipertajam dengan ketidaksiapan Mark (calon ayah asuh) yang masih berpikir untuk karier dan belum siap menerima kehadiran seorangnya bayi sebagaimana Vanessa (calon ibu asuh), dengan rencana Mark untuk menceraikan Vanessa. dan juno pun kecewa pada kenyataan tersebut.
Hal yang cukup menonjol yg ditampilkan dalam film ini adalah kedewasaan Juno dalam menghadapi kehamilan serta orang-orang sekitarnya yang mungkin dalam ukuran saat ini masih sangat amat jarang untuk terjadi..

Selasa, 04 Agustus 2009

100 Photographs that Changed the World From Life Magazine - 4

Photobucket
Clarence Hailey Long, 1949 - Another Landmark Image

This is C.H. Long, a 39-year-old foreman at the JA ranch in the Texas panhandle, a place described as “320,000 acres of nothing much.” Once a week, Long would ride into town for a store-bought shave and a milk shake. Maybe he’d take in a movie if a western was playing. He said things like, “If it weren’t for a good horse, a woman would be the sweetest thing in the world.” He rolled his own smokes. When the cowboy’s face and story appeared in LIFE in 1949, advertising exec Leo Burnett had an inspiration. The company Philip Morris, which had introduced Marlboro as a woman’s cigarette in 1924, was seeking a new image for the brand, and the Marlboro Man based on Long boosted Marlboro to the top of the worldwide cigarette market.

Photobucket
Lynching 1930

A mob of 10,000 whites took sledgehammers to the county jailhouse doors to get at these two young blacks accused of raping a white girl; the girl’s uncle saved the life of a third by proclaiming the man’s innocence. Although this was Marion, Ind., most of the nearly 5,000 lynchings documented between Reconstruction and the late 1960s were perpetrated in the South. (Hangings, beatings and mutilations were called the sentence of “Judge Lynch.”) Some lynching photos were made into postcards designed to boost white supremacy, but the tortured bodies and grotesquely happy crowds ended up revolting as many as they scared. Today the images remind us that we have not come as far from barbarity as we’d like to think.

Photobucket
Migrant Mother 1936

This California farmworker, age 32, had just sold her tent and the tires off her car to buy food for her seven kids. The family was living on scavenged vegetables and wild birds. Working for the federal government, Dorothea Lange took pictures like this one to document how the Depression colluded with the Dust Bowl to ravage lives. Along with the writing of her economist husband, Paul Taylor, Lange’s work helped convince the public and the government of the need to help field hands. Lange later said that this woman, whose name she did not ask, “seemed to know that my pictures might help her, and so she helped me.”

Photobucket
Galloping Horse 1878

Was there a moment midstride when horses had all hooves off the ground? Leland Stanford, the railroad baron and future university founder, bet there was—or at least that’s the story. It was 1872 when Stanford hired noted landscape photographer Eadweard Muybridge to figure it out. It took years, but Muybridge delivered: He rigged a racetrack with a dozen strings that triggered 12 cameras. Muybridge not only proved Stanford right but also set off the revolution in motion photography that would become movies. Biographer Rebecca Solnit summed up his life: “He is the man who split the second, as dramatic and far-reaching an action as the splitting of the atom.”

Photobucket
Pigeon House and Barn 1827

As early as 1793, Frenchman Nicéphore Niépce and his brother Claude imagined a photographic process, and over the next several years, Nicéphore experimented with various light-sensitive substances and cameras. In 1824 he produced a view from his window on a metal plate covered with asphalt. That and most other pictures fashioned by Niépce in the 1820s no longer exist, but the fuzzy image of a pigeon house and a barn roof taken in the summer of 1827 is a good representation of Niépce’s art. To make what he called a “heliograph,” or sun drawing, Niépce employed an exposure time of more than eight hours. Photography, if not yet practical, had been invented.

Photobucket
How Life Begins 1965

In 1957 he began taking pictures with an endoscope, an instrument that can see inside a body cavity, but when Lennart Nilsson presented the rewards of his work to LIFE’s editors several years later, they demanded that witnesses confirm that they were seeing what they thought they were seeing. Finally convinced, they published a cover story in 1965 that went on for 16 pages, and it created a sensation. Then, and over the intervening years, Nilsson’s painstakingly made pictures informed how humanity feels about . . . well, humanity. They also were appropriated for purposes that Nilsson never intended. Nearly as soon as the 1965 portfolio appeared in LIFE, images from it were enlarged by right-to-life activists and pasted to placards.

Photobucket
Promontory Point 1869

The ceremony begins on May 10, 1869, as an eastbound Central Pacific locomotive and a westbound Union Pacific locomotive meet in Promontory Point, Utah, marking the completion of the first transcontinental railroad. The men on the cowcatchers are ready to toast the driving of the golden spike. The work had been brutal. At one stage, efforts to tunnel through the marble spine of a Sierra Nevada mountain consumed an entire year, as only eight inches a day of progress was possible. So: a fabulous accomplishment. But this is also an early example of a photo op—the use of a picture as a means to an end. Folks back East could see, plain as day, that a train could take them all the way to California, where businessmen anxiously awaited their commerce

Photobucket
Triangle Shirtwaist Company Fire 1911

The Triangle Shirtwaist Company always kept its doors locked to ensure that the young immigrant women stayed stooped over their machines and didn’t steal anything. When a fire broke out on Saturday, March 25, 1911, on the eighth floor of the New York City factory, the locks sealed the workers’ fate. In just 30 minutes, 146 were killed. Witnesses thought the owners were tossing their best fabric out the windows to save it, then realized workers were jumping, sometimes after sharing a kiss (the scene can be viewed now as an eerie precursor to the World Trade Center events of September, 11, 2001, only a mile and a half south). The Triangle disaster spurred a national crusade for workplace safety.


Photobucket
Tiananmen Square 1989

A hunger strike by 3,000 students in Beijing had grown to a protest of more than a million as the injustices of a nation cried for reform. For seven weeks the people and the People’s Republic, in the person of soldiers dispatched by a riven Communist Party, warily eyed each other as the world waited. When this young man simply would not move, standing with his meager bags before a line of tanks, a hero was born. A second hero emerged as the tank driver refused to crush the man, and instead drove his killing machine around him. Soon this dream would end, and blood would fill Tiananmen. But this picture had shown a billion Chinese that there is hope.


Photobucket
Flight 1903

On December 17, 1903, two bicycle mechanics from Ohio realized one of humanity’s wildest dreams: For 12 seconds they were possessed of true flight. Before the day ended, Orville and Wilbur Wright would keep their wood-wire-and-cloth Flyer aloft for 59 seconds. Sober citizens knew that only birds used wings to take to the air, so without being at the site, near Kitty Hawk, N.C., or seeing this photo, few would have believed the Wrights’ story. Although it had taken ages for humans to fly, once the brothers made their breakthrough, the learning curve reached the heavens. Within 15 years of this critical moment, nearly all the elements of the modern airplane had been imagined, if not yet developed.

Photobucket
First Human X-ray 1896

To know something like the back of your hand is a timeless concept, one taken yet further by Wilhelm Konrad Roentgen. While working on a series of experiments with a Crookes tube, he noticed that a bit of barium platinocyanide emitted a fluorescent glow. He then laid a photographic plate behind his wife’s hand (note the wedding rings), and made the first X-ray photo. Before that, physicians were unable to look inside a person’s body without making an incision. Roentgen was the recipient of the first Nobel Prize for Physics in 1901.

100 Photographs that Changed the World From Life Magazine 3

Photobucket
Michael Dukakis, 1988 - Another Landmark Image

After Gary Hart was photographed with a model (no, not his wife) in 1988 on a boat dubbed Monkey Business, Massachusetts Governor Michael Dukakis became the Democrat's choice to run for President against George Bush. At a General Dynamics plant in Michigan, the Duke wanted to show he was no softie on defense, so took a spin in a tank. Compared with the dashing WWII pilot Bush, the little Dukakis came off a clown, and the photo op blew up in his face.

Photobucket
Earthrise 1968

The late adventure photographer Galen Rowell called it “the most influential environmental photograph ever taken.” Captured on Christmas Eve, 1968, near the end of one of the most tumultuous years the U.S. had ever known, the Earthrise photograph inspired contemplation of our fragile existence and our place in the cosmos. For years, Frank Borman and Bill Anders of the Apollo 8 mission each thought that he was the one who took the picture. An investigation of two rolls of film seemed to prove Borman had taken an earlier, black-and-white frame, and the iconic color photograph, which later graced a U.S. postage stamp and several book covers, was by Anders.

Photobucket
Execution of a Viet Cong Guerrilla 1968

With North Vietnam’s Tet Offensive beginning, Nguyen Ngoc Loan, South Vietnam’s national police chief, was doing all he could to keep Viet Cong guerrillas from Saigon. As Loan executed a prisoner who was said to be a Viet Cong captain, AP photographer Eddie Adams opened the shutter. Adams won a Pulitzer Prize for a picture that, as much as any, turned public opinion against the war. Adams felt that many misinterpreted the scene, and when told in 1998 that the immigrant Loan had died of cancer at his home in Burke, Va., he said, “The guy was a hero. America should be crying. I just hate to see him go this way, without people knowing anything about him.”

Photobucket
Betty Grable 1942

World War II took American boys to far-flung places and some rough duty. For many, mail came infrequently at best, and at times it held only a Dear John letter. The troops were desperate for some link to home, some reminder of what they were fighting for. Betty Grable and her million-dollar legs were the perfect balm for what ailed ’em, and this 1942 pinup of the easygoing girl with oodles of back-home charm, and other assets, made the war seem a little more bearable. Sexy pinups later grew to poster size, perhaps most memorably in the endlessly reproduced portrait of Farrah Fawcett.


Photobucket

Johnson Is Sworn In 1963

Lyndon Baines Johnson takes the presidential oath of office on November 22 as Air Force One carries his wife, Lady Bird, Jacqueline Kennedy and several White House aides back to Washington from Dallas. Earlier, President John F. Kennedy had been assassinated, and the speed with which this ceremony was arranged—and the photo released—was purposeful. Johnson and his advisers wanted to assure a shocked nation that the government was stable, the situation under control. Images from the Zapruder film of the shooting, which would raise so many questions, would not be made public for days.


Photobucket
Kent State 1970

When President Richard Nixon said he was sending troops to Cambodia, the nation’s colleges erupted in protest. At Kent State some threw rocks. The Ohio National Guard, called in to quell the turmoil, suddenly turned and fired, killing four; two were simply walking to class. This photo captured a pivotal moment: American soldiers had just killed American kids. Student photographer John Filo won the Pulitzer; the event was also memorialized in a Neil Young song and a TV movie. The girl, Mary Ann Vecchio, turned out not to be a Kent State student, but a 14-year-old runaway. She was sent back to her family in Florida.


Photobucket
Hazel Bryant - Another Landmark Image

It was the fourth school year since segregation had been outlawed by the Supreme Court. Things were not going well, and some southerners accused the national press of distorting matters. This picture, however, gave irrefutable testimony, as Elizabeth Eckford strides through a gantlet of white students, including Hazel Bryant (mouth open the widest), on her way to Little Rock’s Central High.

100 Photographs that Changed the World From Life Magazine 2

Photobucket
Birmingham 1963

For years, Birmingham, Ala., was considered “the South’s toughest city,” home to a large black population and a dominant class of whites that met in frequent, open hostility. Birmingham in 1963 had become the cause célèbre of the black civil rights movement as nonviolent demonstrators led by Rev. Martin Luther King Jr. repeatedly faced jail, dogs and high-velocity hoses in their tireless quest to topple segregation. This picture of people being pummeled by a liquid battering ram rallied support for the plight of the blacks.

Photobucket
The Crimean War 1855

A British solicitor with an artistic bent, Roger Fenton took up the paintbrush and then, after seeing photography on display at the Great Exhibition in Hyde Park in 1851, the camera. Fenton shot landscapes and portraits, and pictures of Queen Victoria’s children at Windsor Castle in 1854. The next year, he was assigned by a print dealer to cover the Crimean War, being waged by England and France against Russia. Thus the war became the first conflict with any substantial photographic record. Battling cholera and broken ribs, lugging his developing lab on a horse-drawn carriage, Fenton produced 350 images. They are stately and sedate for war photography, since neither the queen nor Fenton’s sponsors wanted to see carnage or any evidence of a war that was progressing badly.

Photobucket
Cuban Missile Crisis 1962

On October 22, 1962, after accusing the U.S.S.R. of installing nuclear missiles on Cuba, President John F. Kennedy ordered a blockade of the island. When the Soviet ambassador to the U.N. refused to deny the charge, U.S. ambassador Adlai Stevenson confronted him with these photos of missile sites taken by the high-flying spy plane, the U-2, and the Soviets were compelled to back down. The presentation of seemingly incontrovertible evidence would become known as an “Adlai Stevenson moment.” Robert F. Kennedy later admitted that he and his brother found the grainy images quite baffling, and banked on the interpretation proffered by the CIA: “I, for one, had to take their word for it.”


Photobucket
Cuban Missile Crisis 1962

This photograph. taken on November 10, 1962 (from less than 500 ft. altitude at a speed of 713 mph). Clearly shown are Soviet-built SA-2 surface-to-air missiles (SAMs) in place at launch sites. It is claimed that this was President Kennedy's favorite photo of the installations, and was mounted in the oval office. He used this photo to demonstrate the nature of the threat that the offensive weapons provided. The pattern of dots surrounding the sites are claimed to be camouflage nets..

100 Photographs that Changed the World From Life Magazine

Photobucket
Dead on the Beach 1943

When LIFE ran this stark, haunting photograph of a beach in Papua New Guinea on September 20, 1943, the magazine felt compelled to ask in an adjacent full-page editorial, “Why print this picture, anyway, of three American boys dead upon an alien shore?” Among the reasons: “words are never enough . . . words do not exist to make us see, or know, or feel what it is like, what actually happens.” But there was more to it than that; LIFE was actually publishing in concert with government wishes. President Franklin D. Roosevelt was convinced that Americans had grown too complacent about the war, so he lifted the ban on images depicting U.S. casualties. Strock’s picture and others that followed in LIFE and elsewhere had the desired effect. The public, shocked by combat’s grim realities, was instilled with yet greater resolve to win the war.


Photobucket
Biafra 1969

When the Igbos of eastern Nigeria declared themselves independent in 1967, Nigeria blockaded their fledgling country-Biafra. In three years of war, more than one million people died, mainly of hunger. In famine, children who lack protein often get the disease kwashiorkor, which causes their muscles to waste away and their bellies to protrude. War photographer Don McCullin drew attention to the tragedy. "I was devastated by the sight of 900 children living in one camp in utter squalor at the point of death," he said. "I lost all interest in photographing soldiers in action." The world community intervened to help Biafra, and learned key lessons about dealing with massive hunger exacerbated by war-a problem that still defies simple solutions.


Photobucket
Breaker Boys1910

What Charles Dickens did with words for the underage toilers of London, Lewis Hine did with photographs for the youthful laborers in the United States. In 1908 the National Child Labor Committee was already campaigning to put the nation’s two million young workers back in school when the group hired Hine. The Wisconsin native traveled to half the states, capturing images of children working in mines, mills and on the streets. Here he has photographed “breaker boys,” whose job was to separate coal from slate, in South Pittston, Pa. Once again, pictures swayed the public in a way cold statistics had not, and the country enacted laws banning child labor.


Photobucket
South of the DMZ 1966

Contrary to the constraints that were put upon the press in subsequent conflicts, and even to the embedded program used in the recent Iraqi war, correspondents and photographers in Vietnam could, as Walter Cronkite wrote in LIFE, “accompany troops to wherever they could hitch a ride, and there was no censorship . . . That system—or lack of one—kept the American public well informed of our soldiers’ problems, their setbacks and their heroism.” Reaching Out is a quintessential example of the powerful imagery that came out of Vietnam. “The color photographs of tormented Vietnamese villagers and wounded American conscripts that Larry Burrows took and LIFE published, starting in 1962, certainly fortified the outcry against the American presence in Vietnam,” Susan Sontag wrote in her essay “Looking at War,” in the December 9, 2002, New Yorker. “Burrows was the first important photographer to do a whole war in color—another gain in verisimilitude and shock.” Burrows was killed when the helicopter he was riding in was shot down over Laos in 1971.

Senin, 03 Agustus 2009

DIM SUM FUNERAL

awalnya penasaran ama nih Film. ngeliat posternya berderet festival yg dimenangkan.
sejam mengikuti alurnya cukup membosankan, karena menceritakan proses pemakaman dari seorang Ibu yang terkesan egois, otoriter, judes dan dibenci
memiliki 4 orang anak yang satu sama lain tidak akur dengan konflik keluarga masing2 yg tak urung berawal dari keegoisan sang ibu.
Photobucket
sesuai pesan sang ibu yg ingin pemakamannya dilakukan menurut tradisi china, dan anak2nya pun dipaksa mengikuti dan mengenal tradisi china yang mengharuskan
mereka berdiam dalam rumah duka selama 7 hari dengan berbagai prosesi.
daya tariknya mulai terlihat dengan keterbukaan dan keakraban anak2nya serta mengenal sisi lain dari ibunya dari orang sekitar dan pengalaman masa2 kecilnya
selama masa-masa duka dilewatin dalam kebersamaan.
konflik dan permainan emosi pada film inipun sangat ringan dan tidak mengharuskan kita meneteskan air mata atau ikutan tegang. seperti kemampuan menerima,
kekuatan memaafkan dll...
adanya konflik si sulung dengan suaminya yang baru aja kehilangan anak tercintanya, menerima si bungsu yg lesbian,konflik mantu dg mertua dll ....simpel.... tapi gila ...
Yup,, kegilaannya pada ide Ibu yg berpura2 meninggal, menggali rasa dan asa anak2nya dan menjadi ibu yg ingin lebih dicintai dan tidak ingin kesepian diujung hayatnya.
hehehe.. bayangkan gmana ekspresi anak2nya yg telah menguras seluruh emosi selama masa duka dengan menemukan bahwa ternyata ibunya masih hidup ????

Valkyrie

Photobucket
Tidak Semua Orang Jerman patuh dan mencintai Hitler ..
ini yang ingin mereka sampaikan, selama pemerintahan Hitler, telah belasan kali terjadi usaha pembunuhan atas dirinya oleh pasukannya sendiri. Valkyrie merupakan sebuah operasi menghindari kekacauan dan pembentukan pemerintahan bayangan yang berlaku ketika Hitler meninggal.
Kolonel Claus von Stauffenberg (Tom Cruise), seorang kolonel yang terluka dan kembali ke markas Nazi. dan diapun direkrut oleh kelompok German Resisntance  yang bertujuan  membunuh Hitler untuk menyelamatkan kehancuran Jerman dan Eropa. Karena belum juga menemukan eksekutor, maka Stauffenberg memberanikan sendiri menjadi eksekutor dg membawa bom pada saat pengarahan militer oleh Hitler di markasnya.
Stauffenberg berhasil melakukan misinya, dan menjalankan serta mengusai berlin dalam beberapa jam. hal inipun banyaknya dukungan dari para simpatisan yang berasal dari berbagai komponen Nazi, dan beberapa negara tetangga tapi sayangnya Hitler lolos dari pemboman tersebut dan berbalik menyerang mereka. Dan malamnyapun mereka ditangkap dan di eksekusi mati.

Stone of Destiny (2008)

Photobucket
Cerita ini mengangkat kisah perjuangan seorang mahasiswa untuk mengobarkan semangat nasionalisme dari bangsa Skotlandia yang sedang ditindas secara politis dan ekonomi oleh bangsa Inggris. hal ini dikarenakan segala usaha yang dilakukan para pejuang skotlandia dalam membangun dukungan masyarakat cukup lemah dan mudah diruntuhkan karena beluma adanya sebuah simbol sebagai pemicu gerakan tersebut.
sehingga dia berencana melakukan tindakan simbolis dengan mencuri /merembut kembali the Stone of Scone yang disimpan museum di London sejak kemenangan militer inggris dari bangsa skotlandia. misi pencurian itu awalnya dirancang berdua bersama temannya, tapi setelah rencananya sudah matang dan siap dilaksanakan temannya malah mundur karena pertimbangan resiko dan karir. Ian Hamiltong pun melakukan usahanya sendiri dan menemui penyandang dana yaitu rektor universitasnya yang memiliki nasionalisme yg cukup tinggi kepada skotlandia. sebelum melakukan aksinya, ian halminton dirujuk kepada seorang mahasiswi yang memiliki kecintaan yang besar pada skotlandia. melalui mahasiswi tersebut maka terbentuklah sebuah tim yang terdiri 4 orang.
dan merekapun berhasil mengambil kembali stone tersebut yang diselipkan dibawah kursi tahta raja inggris sebagai simbol kekalahan bangsa skotlandia, membawa stone tersebut kembali ke skotlandia dan membakar kembali semangat nasionlisme masyarakat skotlandia. akhir cerita merekapun ditangkap oleh polisi inggris tapi keberhasilan mereka telah menjadi momentum perjuangan bangsa skotlandia pada tahun 1951.
yeah.. untuk menguatkan sebuah nilai .. kita kadang membutuhkan sebuah Simbol, tapi penghancuran nilai-nilai pun bisa terjadi jika terlalu mengkultuskan simbol ......

The Burning Plain (2008)

Photobucket
Alur cerita yang maju mundur, awalnya membuat bingung. Film ini mengangkat cerita pelarian dari rasa ketakutan seorang anak (Sylvia) terhadap accident fatal yang terjadi saat dia kecil.
Berawal dari perselingkuhan ibunya dengan laki2 berkeluarga, yang kemudian meninggal terbakar di dalam van tempat perselingkuhan ibunya dan laki2 tersebut. Selanjutnya diteruskan dengan jalinan percintaan Sylvia dengan anak dari selingkuhan ibunya yang mengakibatkan dia hamil dan lari bersama pasangannya dari rumah masing2 karena kemarahan keluarga. Setelah melahirkan anaknya, diapun meninggalkan anak yang baru berumur 2 hari bersama sang bapak.
Pada akhir cerita, barulah kita diperlihatkan maksud dari kebakaran yang direncakanan, gaya hidup sex Sylvia yang cukup liar serta meninggalkan anak dan suaminya, saat dia dijemput oleh sang anak untuk melihat suaminya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Alur dan ide ceritanya cukup menarik disertai akting dari para pemainnya yang sangat baik mampu membuatku untuk menahan kantuk saat menontonnya pada jam midnight.

The Soloist

Photobucket
menceritakan pengalaman seorang journalist yang mengangkat topik tentang seorang musikus tuna wisma
tuna wisma tersebut mengidap schizophrenic yg memiliki kemampuan memainkan Cleo dg 2 string lagu2 Bethoven.dan memiliki impian untuk konser di Walt disney Concert Hall.
sang journalist mendapatkan penghargaan atas tulisan2nya tentang tuna wisma tersebut, dan berniat membantu mewujudkan impian dan mengobati sakitnya serta memberikan kehidupan yg lebih baik.
disinalah pergulatannya, tentang usaha sang journalist ingin menarik keluar si tuna wisma dari jalanan tapi hal itu malah membangun ketidakpercayaan si tuna wisma terhadap sang journalist.
banyak igauan si tuna wisma yg cukup satir salah satunya dengan menuhankan sang journalist yg sedang menjadi juru selamatnya.
mungkin cluenya dalam film ini.. tidak perlu pusing menjadi juru selamat kepada mereka, tapi dengan pertemanan yg tulus merupakan anugerah tersebar bagi mereka dan bisa menjadikan spirit untuk survive bagi mereka yang hidup dijalan.
anyway .. Jamie Foxx emang "sakit" dalam membawakan perannya....

Sabtu, 01 Agustus 2009

belajar Nulis

wkwkwkwk.. baca kembali postingan review film.... anccuurr banget...
jadi sebelum dikata2an seluruh jagad raya ini ...
Mohon maaf jika telah merusak sel-sel kepala dan membuat mata anda perih karena membaca segala macam tulisan-tulisan pada blog ini...


sekali lagi .. Mohon Mupfh....

Jumat, 31 Juli 2009

Shinjuku Incident

Photobucket
pada film ini tidak tampak aktrasi keberanian dari seorang Jacky chang, malah klo boleh dibilang ga terlalu pandai dalam beladiri. hehehehe
film ini mengangkat kehidupan imigran china di Jepang pada akhir dekade 90an, yang hanya mampu menjadi pekerja kasaran yang berada dipinggiran aktifitas perekonomian Jepang dan cenderung ditindas oleh kelompok lain. Melalui perjuangan panjang, kenekatan dan keberaniannya menjalankan tugas-tugas diberikan oleh seorang pemimpin mafia Jepang maka kelompok imigran china diberikan daerah Shinjuku sebagai daerah kekuasaan mereka dan status kependudukan mereka secara sah.
Pergesekan antara imigran chinapun terjadi saat mereka telah menjadi penguasa di daerah tersebut, dan melakukan aktifitas-aktifitas ilegal. hal inipun membuat mafia jepang serta kelompok imigran lainnya gerah atas hal tersebut dan bekerja sama menggulingkan kelompok imigran china. brotherhood di tanah rantau yang sempat pecah akhirnya solid kembali walaupun di saat kejatuhan kelompok tersebut.
dengan teriakan "30% adalah takdir dan sisanya adalah perjuangan .. " imigran chinapun semakin banyak yang melakukan perpindahan secara ilegal akibat ledakan penduduk di china.

Battle in Seattle

Photobucket
Drama ini mengangkat proses protes terhadap Konferensi Tingkat Menteri Ketiga (Third Ministerial Conference) pada tahun 1999 di Seattle (AS), yang diawali aksi damai para aktivis NGO dan kemudian menuju pada anarkisme dan perang sipil akibat tindakan aparat yang menembakkan gas air mata dan memukul para demonstran, terjadinya penangkapan para aktivis yang kemudian dibebaskan beberapa hari kemudian melalui aksi demonstrasi dengan gagalnya konferensi WTO tersebut.
selain film ini menfokuskan pada aktifitas 4 aktivis dalam melakukan aksinya serta pergulatannya, film inipun menyajikan beberapa sisi lain atau bentuk-bentuk lain dari sebuah perlawanan pada saat bersamaan dengan alasan-alasan yang berbeda. hal ini dapat terlihat dari kuekuehnya seorang doktor NGO mempresentasikan kondisi negara-negara ketiga kepada industri farmasi sehingga mau menurunkan harga produknya padahal situasi diluar sedang kisruh, atau seorang reporter yg awalnya mempertanyakan eksitensi kehadiran demonstrasi di jalan dan akhirnya turut serta dan ditangkap bersama-sama pendemo, atau munculnya gambar seorang utusan dari afrika yang berjuang merebut keberpihakan para delegasi untuk mengagendakan pembahasan tentang dunia ketiga pada konferense...atau kegelisahan seorang polisi yang harus menjalankan tugasnya karena perintah atasan.
pada akhir film, menampilkan beberapa aktifitas protes terhadap pertemuan-pertemuan WTO di beberapa negara.