Selasa, 04 Agustus 2009

100 Photographs that Changed the World From Life Magazine

Photobucket
Dead on the Beach 1943

When LIFE ran this stark, haunting photograph of a beach in Papua New Guinea on September 20, 1943, the magazine felt compelled to ask in an adjacent full-page editorial, “Why print this picture, anyway, of three American boys dead upon an alien shore?” Among the reasons: “words are never enough . . . words do not exist to make us see, or know, or feel what it is like, what actually happens.” But there was more to it than that; LIFE was actually publishing in concert with government wishes. President Franklin D. Roosevelt was convinced that Americans had grown too complacent about the war, so he lifted the ban on images depicting U.S. casualties. Strock’s picture and others that followed in LIFE and elsewhere had the desired effect. The public, shocked by combat’s grim realities, was instilled with yet greater resolve to win the war.


Photobucket
Biafra 1969

When the Igbos of eastern Nigeria declared themselves independent in 1967, Nigeria blockaded their fledgling country-Biafra. In three years of war, more than one million people died, mainly of hunger. In famine, children who lack protein often get the disease kwashiorkor, which causes their muscles to waste away and their bellies to protrude. War photographer Don McCullin drew attention to the tragedy. "I was devastated by the sight of 900 children living in one camp in utter squalor at the point of death," he said. "I lost all interest in photographing soldiers in action." The world community intervened to help Biafra, and learned key lessons about dealing with massive hunger exacerbated by war-a problem that still defies simple solutions.


Photobucket
Breaker Boys1910

What Charles Dickens did with words for the underage toilers of London, Lewis Hine did with photographs for the youthful laborers in the United States. In 1908 the National Child Labor Committee was already campaigning to put the nation’s two million young workers back in school when the group hired Hine. The Wisconsin native traveled to half the states, capturing images of children working in mines, mills and on the streets. Here he has photographed “breaker boys,” whose job was to separate coal from slate, in South Pittston, Pa. Once again, pictures swayed the public in a way cold statistics had not, and the country enacted laws banning child labor.


Photobucket
South of the DMZ 1966

Contrary to the constraints that were put upon the press in subsequent conflicts, and even to the embedded program used in the recent Iraqi war, correspondents and photographers in Vietnam could, as Walter Cronkite wrote in LIFE, “accompany troops to wherever they could hitch a ride, and there was no censorship . . . That system—or lack of one—kept the American public well informed of our soldiers’ problems, their setbacks and their heroism.” Reaching Out is a quintessential example of the powerful imagery that came out of Vietnam. “The color photographs of tormented Vietnamese villagers and wounded American conscripts that Larry Burrows took and LIFE published, starting in 1962, certainly fortified the outcry against the American presence in Vietnam,” Susan Sontag wrote in her essay “Looking at War,” in the December 9, 2002, New Yorker. “Burrows was the first important photographer to do a whole war in color—another gain in verisimilitude and shock.” Burrows was killed when the helicopter he was riding in was shot down over Laos in 1971.

Omayra Sánchez [1985]

Photobucket

Omayra Sánchez adalah salah satu dari 25.000 korban bencana gunung berapi nevado del ruiz yang meletus pada 14 November 1985, adalah korban paling manis dan paling tragis dari lumpur keras itu. Selama tiga hari, gadis pemberani ini bertahan hidup di tengah genangan lumpur. Ketika ditemukan, ia masih segar, bicara tentang tes matematika, dan menganjurkan regu penyelamat untuk istirahat. Sebuah ban bekas dikalungkan ke lehernya sebagai penahan agar Omayra tidak tenggelam. Ia tidak segera bisa dikeluarkan dari rawa karena cengkeraman lumpur ternyata sangat ketat. Sesudah terangkat beberapa sentimeter,
Photobucket
Omayra terpaksa ditinggal sendiri. Ketika regu penyelamat kembali dengan pipa penolong, gadis kecil itu sudah kehabisan tenaga. Tak lama kemudian ia meninggal, diiringi rasa pahit getir orang-orang Colombia yang mengetahui bahwa perjuangan menyelamatkannya sia-sia. Tidak heran jika Phil Davison melaporkan bahwa peristiwa lahar Gunung Ruiz adalah kejadian paling mengharukan yang dialaminya selama bertugas sebagai wartawan. Ia juga menulis tentang, seorang ayah yang sebelah lengannya luka parah tapi masih sanggup berjalan 7 km dengan seorang anak menggantung di pundak. (source : Mbm Tempo)

Cerita tentang Sharbat Gula

Foto disamping mungkin sudah ada yang pernah liat di salah satu cover majalah National Geographic edisi perang di afghanistan diakhir2 taun 1980an. foto gadis itu langsung ngetop dimana2,n di taun 1990an foto itu bhkan mpe dpt mcem2 penghargaan..padhal cuma foto seorang gadis.
mungkin yang nganggep itu 'cuma' foto gadis afghanistan itu salah banget!
foto gadis itu sampai2 ngetop di berbagai negara,n smua itu pasti ada sbabnya..
kalu kita liat foto gadis itu, kita pasti bakal tersihir matanya yang anggun dan menawan, dengan menunjukkan ciri khas muka warga afghanistan..tapi mata hijau anggunnya tetp menyihir kita untk bertanya2, "Sapa gadis itu?"
pertanyaan itu juga yang pasti terpkir berulang2 oleh photographernya sendiri, Steve McCurry.
ini adalah true story tentang seorang gadis bermata anggun dari Afghanistan...
diakhir tahun 1980an seorang jurnalis dari majalah National Graphic bernama Steve McCury sdang meliput keadaan di afghanistan yang sedang berlangsung perang dengan soviet ketika itu. di saat dia memotret keadaan di sana, kameranya tanpa sengaja tertuju seorang gadis yang sedang menyendiri di dekat sebuah runtuhan bangunan di jota itu. wajahnya menarik perhatian seorang Steve untuk memotretnya, dan ia pun langsung melangsungkan keinginianya untuk memotret gadis itu.
sekembalinya ia ke negara asalnya, ia pun melanjutkan pekeraanya untuk mencetak fotonya untk national geographic, namun disaat ia mencuci foto gadis itu, ia sangat terpana akan hasil fotonya sndiri. mata indah gadis difotonya seperti mepertontonkan keanggunan sekaligus penderitaan seorang korban perang.ia pun bertanya2 "siapa gadis ini?"
pertanyaan itu terus keputer diotaknya selama bertahun2,hingga ia memberanikan diri untuk kembali ke afghanistan di awal tahun 1990an hanya demi mencari tahu siapa gadis bermata anggun itu.pencarianya berlangsung selama berbulan2,namun sayang ia tidak mendapatkan hasil. niat untuk mencari tahu siapa gadis itu pun ia urungkan.

kembali ke amerika dengan tgan kosong membuat ia kecewa. kecewa itu terus berlangsung selama 15 tahun kemudian.tetapi ia tak patah semangat dan sekali lagi, di tahun 2001 ia kembali ke afghanistan demi gadis itu yang kmngkin telah berumur 30an bila ia masih hidup.
dengan tekad tidak ingin mengulangi kegagalan 15an tahun yang lalu, ia terus mancari wanita afghanistan di fotonya tanpa patah semangat. berbulan2 disana tanpa hasil tidak mmbuat smangatnya reda juga.

suatu hari ia mendapat titik terang, seorang lelaki afghanistan yang ia tanyai ternyata mengaku sebagai suami gadis di foto yang Steve bawa. pria itu bernama Rahmat Gul.
ia lalu membawa steve ke rumahnya yang terletak jauh dri kota,dan di rumahnya,hasil jerih payahnya selama bertahun2 terbayar sudah.di rumah itu seorang wanita berusia 30an tengah duduk di ruang tamu legkap dengan pakaian muslim dan cadar menutp mukanya,namun tidk menutup mata anggunya.mata anggun itu menjawab pertanyaan slama bertahun2 di kpala Steve.
slama bertahun2 tidak mmbuat mata angggunya berubah, tetap sperti di foto ketika ia berusia 13 tahun.wanita itu menceritakan tantang khidpany setelah perang itu,ia telah memiliki 3 anak, Robina,Zahida, dan Alia.
pertanyaan steve slama bertahun2pun ia utarakan kepada wanita itu "Siapa nama anda?"
"Sharbat Gula." jawab wanita dengn mata anggun itu.